AMPO – Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Rusia Vladimir Putin secara tegas menyatakan bahwa hubungan strategis antara Moskow dan Beijing merupakan pilar penting yang menstabilkan dunia, khususnya di tengah gelombang gejolak global yang terus meningkat. Pernyataan krusial ini disampaikan Putin dalam sebuah panggilan video yang dilakukannya dengan Presiden China Xi Jinping pada hari Rabu, 4 Februari 2026.

Putin secara khusus menyoroti kedekatan hubungan ekonomi, politik, dan keamanan yang semakin erat antara Rusia dan China. Kedekatan ini utamanya menguat secara signifikan sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada tahun 2022, yang kemudian disusul oleh sanksi besar-besaran dari negara-negara Barat.

Mempererat Ikatan Strategis di Tengah Tekanan Global

Dalam percakapan tersebut, Putin dengan lugas mengatakan kepada Xi bahwa, “Di tengah gejolak yang meningkat, aliansi kebijakan luar negeri antara Moskow dan Beijing tetap menjadi faktor penstabil yang penting.” Pernyataan ini disiarkan oleh televisi pemerintah Rusia dan dikutip oleh AFP, menunjukkan komitmen kuat kedua negara terhadap posisi bersama di panggung global.

Lebih lanjut, pemimpin Rusia itu menggambarkan kemitraan antara kedua negara adidaya tersebut sebagai sebuah model kerja sama internasional yang patut dicontoh. “Kemitraan komprehensif dan kerja sama strategis Rusia-China adalah contoh yang patut ditiru,” kata Putin, seraya menambahkan panggilan akrab “sahabatku” kepada Xi Jinping.

Dorongan Ekonomi dan Pergeseran Perdagangan

Panggilan video ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah sejumlah pejabat tinggi Rusia dan China menyepakati potensi untuk “menembus batas baru” dalam hubungan bilateral mereka pada tahun ini. Kesepakatan tersebut diiringi dengan rencana peningkatan kerja sama ekonomi yang signifikan, menunjukkan fokus pada penguatan fondasi material hubungan mereka.

Putin secara spesifik menyoroti perkembangan perdagangan bilateral, sebuah area yang kini menjadi lebih vital bagi Rusia. Rusia semakin gencar mengalihkan ekspornya ke pasar-pasar Asia, menyusul menyempitnya akses ke pasar Barat akibat sanksi internasional.

Sikap China Terhadap Konflik Ukraina

Mengenai konflik yang sedang berlangsung, China hingga kini tidak pernah secara terbuka mengecam perang Rusia di Ukraina maupun menyerukan penarikan pasukan Moskow dari wilayah tersebut. Sikap ini telah membuat sejumlah sekutu Ukraina menilai bahwa Beijing telah memberikan dukungan tidak langsung kepada Rusia, baik secara diplomatik maupun ekonomi.

Menariknya, pembicaraan antara Putin dan Xi ini berlangsung di saat para negosiator dari Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat (AS) tengah menggelar putaran pembicaraan lanjutan di Abu Dhabi. Pertemuan di Abu Dhabi tersebut bertujuan untuk membahas upaya mengakhiri perang yang sebentar lagi akan memasuki tahun keempatnya, menandakan urgensi situasi global.

Namun, dalam percakapan antara Putin dengan Xi, isu Ukraina sama sekali tidak disinggung, sebuah fakta yang menggarisbawahi prioritas dan fokus agenda bilateral kedua pemimpin. Hal ini mengisyaratkan bahwa stabilitas aliansi Rusia-China memiliki bobot lebih besar dalam agenda mereka dibandingkan dengan tekanan untuk mencari solusi konflik di Ukraina.

Diplomasi Personal dan Koordinasi Tingkat Tinggi

Hubungan personal antara kedua pemimpin juga tampak sangat intens dan berulang kali diperlihatkan di publik. Putin terakhir kali bertemu langsung dengan Xi Jinping pada September 2025 lalu saat keduanya menghadiri sebuah parade militer besar di Beijing, menunjukkan kedekatan militer dan diplomatik mereka.

Sebelumnya, Xi Jinping juga melakukan kunjungan penting ke Moskow pada Mei 2025, tahun lalu, untuk menghadiri peringatan kemenangan Rusia atas Nazi dalam Perang Dunia II. Pertemuan-pertemuan tatap muka ini menjadi bukti nyata dari ikatan pribadi dan politik yang kuat di antara kedua pemimpin.

Selain tingkat kepala negara, kontak tingkat tinggi juga terus berlanjut di level pejabat. Akhir pekan lalu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan Kepala Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu di Beijing, membahas berbagai isu penting yang mengukuhkan koordinasi mereka.

Dalam pertemuan tersebut, Wang Yi kembali menegaskan pentingnya kerja sama antara kedua negara dalam menghadapi tantangan global. “China dan Rusia harus bekerja sama untuk menegakkan multilateralisme di masa kekacauan, serta mendukung dunia multipolar yang setara dan tertib,” kata Wang Yi, seperti dikutip oleh Kementerian Luar Negeri China saat itu, menyoroti visi bersama untuk tatanan global baru.

Membentuk Tatanan Dunia Multipolar

Aliansi yang semakin erat antara Rusia dan China ini jelas memiliki implikasi besar terhadap tatanan geopolitik global. Kedua negara secara konsisten menyuarakan pandangan tentang perlunya dunia multipolar, menantang hegemoni Barat dan mendorong kesetaraan di antara negara-negara.

Melalui kerja sama yang komprehensif ini, Moskow dan Beijing berupaya membentuk arsitektur internasional baru yang mereka yakini lebih adil dan stabil. Klaim Putin bahwa aliansi ini menstabilkan dunia menunjukkan ambisi mereka untuk menjadi kekuatan penyeimbang utama di tengah ketegangan global.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *